Pati, 14 September 2024 – Gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai kekaguman memecah keheningan pagi di halaman MA Sunan Prawoto. Penampilan seni tari tradisional dari siswa-siswi kelas XI sukses menjadi pembuka yang spektakuler dalam acara Gelar Karya P5RA (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Rahmatan Lil Alamin). Acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan kurikulum merdeka yang telah dilaksanakan selama satu semester.
Dengan tema “Semarak Keberagaman Sebagai Wujud Identitas Bangsa”, acara ini berhasil menyedot perhatian seluruh warga madrasah dan tamu undangan. Kemeriahan terasa sejak pembukaan, di mana semangat moderasi beragama dan cinta tanah air berpadu dalam setiap penampilan.
Sejak nada pertama musik etnik bergema, suasana seketika berubah magis. Para penonton, yang terdiri dari semua Siswa MA Sunan Prawoto seolah terhipnotis oleh gerakan ritmis dan sinkronisasi yang ditampilkan di atas panggung.

Pembukaan yang “Pecah” dan memukau tidak sekadar menari, para siswa kelas XI tampil dengan totalitas tinggi. Balutan kostum adat yang megah dengan warna-warna berani menambah kesan unik dan mewah pada penampilan tersebut. Setiap Gerakan mulai dari kerlingan mata yang tajam hingga hentakan kaki yang bertenaga, mencerminkan latihan keras yang mereka jalani selama berbulan-bulan.
Keriuhan penonton semakin memuncak saat para penari melakukan formasi-formasi sulit yang menuntut konsentrasi tinggi. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap transisi gerakan, menciptakan atmosfer yang sangat meriah dan penuh energi positif.
Kesuksesan tari pembuka ini menjadi pengantar yang sempurna menuju agenda berikutnya, yaitu Kontes Rumah Adat Nusantara. Setelah menyaksikan kelincahan gerak tari, mata pengunjung dimanjakan dengan deretan miniatur rumah adat dari berbagai provinsi di Indonesia yang berjejer rapi di area pameran.
Acara Gelar Karya ini merupakan puncak dari rangkaian panjang kegiatan P5RA. Melalui perpaduan Seni Tari dan Arsitektur Rumah Adat, MA Sunan Prawoto berhasil menanamkan nilai-nilai kebinekaan dan kreativitas kepada para siswanya. Kemeriahan yang tercipta hari ini membuktikan bahwa madrasah bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga kawah candradimuka bagi pelestari budaya bangsa.
Tak kalah menarik, area pameran dipenuhi dengan deretan replika rumah adat hasil karya siswa. Kontes rumah adat ini menjadi ajang pembuktian kreativitas dan kerja sama tim. Setiap kelas berusaha menampilkan detail arsitektur yang autentik, mulai dari Rumah Gadang yang ikonik hingga Rumah adat Honai yang unik.
“Melalui pembuatan replika rumah adat ini, siswa tidak hanya belajar seni kriya, tetapi juga memahami nilai-nilai sosial dan filosofi bangunan tradisional yang sarat akan makna gotong royong,” ujar salah satu koordinator P5RA.
Kepala MA Sunan Prawoto menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi para siswa dan semua koordinator P5RA, Beliau menegaskan bahwa P5RA adalah sarana penting untuk membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa religius yang inklusif dan bangga akan identitas bangsanya. Acara ditutup dengan pengumuman pemenang kontes dan foto bersama. Gelak tawa dan rasa haru bercampur menjadi satu, menandai suksesnya puncak kegiatan P5RA tahun ini. Kemeriahan ini menjadi bukti bahwa tradisi dan pendidikan modern dapat berjalan beriringan di bawah atap madrasah.

