PATI – Suasana khidmat bercampur riuh kegembiraan menyelimuti kawasan Desa Prawoto dalam rangka memperingati Haul Rajabiah Sunan Prawoto. Acara tahunan yang sakral ini tidak hanya menjadi ajang kirim doa bagi sang Sultan Demak terakhir, tetapi juga menjelma menjadi pesta rakyat yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama para pelajar dari berbagai jenjang pendidikan.
Lautan pelajar memadati kawasan makam sejak pagi hari, jalanan menuju kompleks makam Sunan Prawoto telah berubah menjadi “lautan” seragam. Antusiasme peserta didik terlihat sangat menonjol tahun ini. Berbagai tingkatan sekolah turut serta memeriahkan kirab dan rangkaian acara. Hal ini menjadi sinergi tradisi serta edukasi untuk semua.
Kirab budaya yang digelar kali ini berubah menjadi panggung kampanye lingkungan yang megah. Madrasah Aliyah Sunan Prawoto berhasil mengusung tema “Generasi Madrasah, Cinta Lingkungan,” peserta menghadirkan karnaval yang menggambarkan kerusakan alam, bencana alam dan penghijauan.
Peringatan Haul Rajabiah Sunan Prawoto tahun ini tampil beda dan sarat akan pesan moral. Tidak hanya menjadi ajang spiritual, kirab budaya yang digelar kali ini berubah menjadi panggung kampanye lingkungan yang megah. Teatrikal kerusakan alam yang terletak di barisan awal menjadi penampilan yang cukup mencolok dari siswa-siswi MA Sunan Prawoto.. Mereka menampilkan visualisasi bumi yang sedang “sakit” akibat eksploitasi berlebihan. Visualisasi hutan gundul meliputi replika batang pohon yang kering dan gersang serta para pelaku pembalakan liar, menggambarkan dampak penebangan liar yang memicu bencana.
Barisan selanjutnya yang terdiri dari siswa siswi MA Sunan Prawoto mengusung tema keberlanjutan hasil dari kerusakan alam, yakni bencana alam banjir, kali ini masyarakat disuguhi pemandangan sebuah karnaval bertema mitigasi bencana alam, khususnya banjir, yang diramaikan dengan replika perumahan yang terendam banjir, perahu penyelamat dan simulasi evakuasi. Inovasi ini berhasil memadukan penghormatan terhadap leluhur dengan edukasi penting bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga bumi kita. Aksi ini berhasil menarik perhatian ribuan penonton yang memadati rute kirab, memberikan pengingat visual yang kuat tentang kondisi alam saat ini.
Sebagai kontras dari gambaran kerusakan tersebut, siswa-siswi MA Sunan Prawoto membawa semangat penghijauan. Mengenakan atribut hijau daun, mereka menjadi garda terdepan dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan. Momen yang paling dinantikan warga adalah saat para peserta kirab berhenti di titik-titik keramaian untuk membagikan bibit pohon gratis kepada para penonton. Ribuan bibit tanaman, mulai dari bibit buah-buahan hingga pohon peneduh, dibagikan sebagai simbol keberlanjutan hidup.

“Kami ingin Haul Sunan Prawoto tahun ini meninggalkan jejak hijau. Jika Sunan Prawoto dahulu membangun peradaban, kita sekarang bertugas menjaga alam tempat peradaban itu berdiri. Membagikan bibit kepada penonton adalah ajakan untuk menanam harapan di rumah masing-masing,” Ungkap ketua panitia penyelenggara.
suka cita di sepanjang jalan tak hanya prosesi ritual, sisi religius acara ini dibalut dengan kemeriahan pasar rakyat. Pedagang kaki lima yang menjajakan jajanan tradisional hingga mainan edukasi menambah semarak suasana. Para siswa tampak menikmati momen kebersamaan dengan teman sekelas mereka setelah rangkaian doa bersama selesai dilaksanakan.
Semangat “Ngalap Berkah” yang diusung dalam Haul Rajabiah kali ini benar-benar terasa lintas generasi. Harapannya, melalui perayaan yang meriah ini, karakter religius dan cinta tanah air dapat tertanam kuat pada diri para pelajar di lingkungan Prawoto dan sekitarnya.